Nama Madrasah : MTs. Bairul Makmur
Curup
Mata Pelajaran : Sejarah
Kebudayaan Islam
Bab : 1
Guru Mapel :
Aan Nusantara, S.H.I, Gr
(Materi 1)
MASUKNYA ISLAM KE
NUSANTARA
Secara garis besar penyebaran Islam di
Indonesia melalui :
A. Perdagangan
Sejak abad
ke-7 – abad ke-16 M, pedagang muslim dari Arab, Persia, dan India yang datang
ke Indonesia telah ikut ambil bagian dalam kegiatan perdagangan.
Pedagang muslim yang berdagang ke Indonesia makin lama makin banyak sehingga membentuk pemukiman yang disebut Pekojan. Dari Pekojan inilah mereka berinteraksi, dan berasimilasi dengan warga lokal sembari menyebarkan agama Islam.
B. Perkawinan
Saudagar
muslim yang masuk ke Indonesia banyak yang menikah dengan warga lokal. Sebelum
perkawinan berlangsung, para wanita pribumi yang belum beragama Islam diminta
mengucapkan syahadat sebagai tanda menerima Islam sebagai agamanya. Melalui
proses, interaksi seperti inilah penduduk pribumi lambat laun mengenal nilai
dan ajaran Islam.
Melalui interaksi tersebut pada gilirannya keluarga muslim itu berkembang menjadi perkampungan muslim, lebih luas lagi menjadi masyarakat muslim. Masyarakat muslim inilah yang di kemudian hari berkembang menjadi kerajaan Islam.
C. Pendidikan
Penyebaran
ajaran Islam melalui pendidikan dilakukan setelah terbentuknya masyarakat
muslim pribumi. Pendidikan diselenggarakan oleh guru agama, kiai serta ulama.
Mereka
memberikan pendidikan berawal dari rumah, masjid serta mushalla. Setelah itu,
mereka mendirikan madrasah dan pondok pesantren untuk mendidik generasi muda
yang tertarik menjadi peran santri. Pesantren ini terbuka bagi siapapun dan
dari daerah lain. Semakin terkenal kiai yang mengajar di sebuah pesantren itu,
semakin besar pula pengaruh pesantren tersebut di tengah masyarakat. Setelah
selesai mengikuti pendidikan, mereka kembali ke kampung halaman masing-masing.
Ada pula yang pergi ke tempat-tempat lain; di sana para santri berdakwah dan
mengajarkan Islam. Aktivitas seperti inilah yang turut memperluas pengaruh
Islam ke berbagai penjuru Indonesia.
D. Tasawuf
Cara penyebaran Islam yang lain adalah melalui tasawuf. Tasawuf adalah salah satu doktrin atau ajaran Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah (hubungan vertikal). Ajaran ini memudahkan orang yang telah mempunyai dasar ketuhanan lain untuk mengerti dan menerima ajaran Islam. Ajaran tasawuf ini banyak dijumpai dalam cerita babad dan hikayat masyarakat setempat. Beberapa tokoh penyebar tasawuf yang terkenal adalah Syaikh Hamzah Fansuri, Syaikh Syamsudin, Syaikh Abdul Samad, dan Syaikh Nuruddin ar-Raniri.
E. Kesenian
Penyebaran
agama Islam di Indonesia terlihat pula dalam kesenian Islam, seperti
peninggalan seni bangunan, seni pahat, seni musik dan seni sastra. Hasil-hasil
seni ini dapat pula dilihat pada bangunan masjid kuno di Aceh, Demak, Cirebon,
dan Banten. Kesenian adalah salah satu unsur kebudayaan, sehingga kesenian
mengambil peran penting dalam titik penyebaran Islam melalui budaya.
Berdasarkan bukti-bukti yang ada,
Islam pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi atau abad ke-1
Hijriyah. Masuknya Islam ke Indonesia dari Arab melalui dua jalur, yaitu:
a) Jalur Utara, dengan rute: Arab (Mekah dan Medinah) – Damaskus –
Bagdad - Gujarat (pantai Barat India) – Srilanka - Indonesia.
b) Jalur Selatan, dengan rute: Arab (Mekah dan Medinah) – Yaman -
Gujarat (pantai barat India) - Srilanka – Indonesia.
Masuk dan
berkembangnya agama Islam di Indonesia adalah peranan para pedagang, khususnya
para pedagang Islam dari Arab, Persia dan Gujarat/India. Mereka datang ke daerah-daerah
di Indonesia untuk berdagang sekaligus menyebarkan agama Islam. Dari interaksi
yang terjadi antara para pedagang muslim dengan penduduk setempat, agama Islam
kemudian berkembang sampai berdirinya sebuah kerajaan.
Kerajaan
Samudera Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia. Pada saat itu, Pasai
menjadi pusat perdagangan yang banyak disinggahi para pedagang dari berbagai
negara, termasuk para pedagang Islam dari Gujarat dan Persia. Demikian pula
para pedagang dari berbagai daerah di Indonesia seperti para pedagang Jawa.
Dari interaksi para pedagang Islam dengan orang Jawa, Islam juga berkembang di
Pulau Jawa.
Perkembangan
Islam di Pulau Jawa terjadi sangat cepat, seiring dengan semakin lemahnya
Kerajaan Majapahit. Komunitas muslim di Jawa kemudian mendirikan kerajaan Islam
pertama di Pulau Jawa, yakni Kerajaan Demak. Dalam perkembangannya Kerajaan
Demak tumbuh menjadi pusat penyebaran agama Islam ke berbagai daerah di
Indonesia.
Faktor
yang menyebabkan Islam mudah diterima oleh rakyat Indonesia dan berkembang
dengan cepat adalah:
a) Syarat-syarat masuk agama Islam sangat mudah. Seseorang telah
dianggap masuk Islam bila ia telah
mengucapkan dua kalimat syahadat.
b) Ajaran Islam tidak mengenal adanya kasta-kasta dan menganggap
semua manusia mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Allah. Kemuliaan
seseorang tidak ditentukan oleh kaya- miskinnya, pangkat dan jabatannya, tetapi
oleh nilai ketakwaannya kepada Allah.
c) Upacara-upacara keagamaan dalam ajaran Islam sangat sederhana dan
tidak harus mengeluarkan banyak biaya.
d) Agama Islam yang menyebar di Indonesia disesuaikan dengan adat dan
tradisi bangsa Indonesia dan dalam penyebarannya dilakukan dengan damai tanpa
kekerasan.
e) Sifat bangsa Indonesia yang ramah tamah memberi peluang untuk bergaul
lebih erat dengan bangsa lain. Di dalam pergaulan yang erat itu kemudian
terjadi saling mempengaruhi dan saling pengertian.
f) Runtuhnya Kerajaan Majapahit memperlancar penyebaran agama Islam.
Faktor-faktor tersebut di atas
didukung pula dengan semangat para penganut Islam untuk terus menyebarkan agama
yang telah dianutnya. Bagi penganut Islam, menyebarkan agama Islan adalah
sebuah kewajiban.
(Materi 2)
BUKTI ADANYA ISLAM DI NUSANTARA
Beberapa Pendapat Tentang Awal Masuknya Islam di Indonesia.
A. Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7:
1. Seminar masuknya Islam di Indonesia (di Aceh),
sebagian dasar adalah catatan perjalanan Al Mas’udi, yang menyatakan bahwa pada
tahun 675 M, terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga.
Pada tahun 648 diterangkan telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur
Sumatera.
2. Dari Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History
(1954), diterangkan bahwa kaum Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M
yang dilakukan oleh para pedagang muslim yang selalu singgah di sumatera dalam
perjalannya ke China.
3. Prof. Sayed Naguib Al Attas dalam Preliminary
Statemate on General Theory of Islamization of Malay-Indonesian Archipelago
(1969), di dalamnya mengungkapkan bahwa kaum muslimin sudah ada di kepulauan
Malaya-Indonesia pada 672 M.
4. Prof. Sayed Qodratullah Fatimy dalam Islam comes to
Malaysia mengungkapkan bahwa pada tahun 674 M. kaum Muslimin Arab telah masuk
ke Malaya.
5. Prof.S. Muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnya berjudul Islam di India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah ada hubungan dengan kaum muslimin Indonesia.
B. Islam Masuk Ke Indonesia pada Abad ke-11:
Satu-satunya sumber pada abad ini adalah ditemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya. Pada makam itu terdapat prasati huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082).
C. Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad Ke-13:
1. Catatan perjalanan marcopolo, menyatakan bahwa ia
menjumpai adanya kerajaan Islam Ferlec (mungkin Peureulack) di aceh, pada tahun
1292 M.
2. Beberapa sarjana barat seperti R.A Kern; C. Snouck
Hurgronje; dan Schrieke, lebih cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke
Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan sudah adanya beberapa kerajaaan Islam di
kawasan Indonesia.
(Materi
3)
ALUR
PERJALANAN PARA PEDAGANG ARAB DALAM BERDAKWAH DI INDONESIA
Sejak
awal masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan
Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara. Wilayah barat
nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi
titik perhatian karena hasil bumi yang dijual menarik bagi para pedagang, dan
menadi daerah lintasan penting antara Cina, dan India.
Sementara
itu, pala dan cengkeh yang berasal dari Maluku di pasarkan di awa dan Sumatera
untuk kemudian dijual kepada para pedagang asing. Sehingga pelabuhan-pelabuhan
penting di Sumatera dan awa antara abad ke 1 dan ke-7 M sering disinggahi para
pedagang asing seperti Lamuri (Aceh), Barus dan Palembang di Sumetera, Sunda
Kelapa dan Gresik di Jawa.
Bersamaan dengan itu, datang pula para pedagang yang berasal dari Timur Tengah. Mereka tidak hanya membeli dan menjaahkan barang dagangan tetapi ada juga yang berupaya menyebarkan agama Islam. Dengan demikian agama Islam telah ada di Indonesia ini bersamaan dengan kehadiran para pedagang Arab. Islam secara akomodatif, akulturasi, dan sinkretis (lambang-lambang budaya) merasuk dan punya pengaruh di Arab, Persia, India dan China. Melalui perdagangan itulah Islam masuk ke kawasan Indonesia. Dengan demikian bangsa Arab, Persia, India dan China punya andil melancarkan perkembangan Islam di kawasan Indonesia.
A. Gujarat (India)
Pedagang Islam dari Gujarat, menyebarkan Islam dengan
bukti-bukti antara lain :
1. Ukiran batu nisan gaya Gujarat.
2. Adat istiadat dan budaya India Islam.
B. Persia
Para pedagang Persia menyebarkan Islam dengan beberapa
bukti antar lain :
1. Gelar “Syah” bagi raja-raja di Indonesia.
2. Pengaruh aliran “Wihdatul Wujud” (Syeh Siti Jenar).
3. Pengaruh madzab Syi’ah (Tabut Hasan dan Husen).
C. Arab
Para pedagang Arab banyak menetap di pantai-pantai
kepulauan Indonesia, dengan bukti antara lain:
1. Menurut al Mas’udi pada tahun 916 telah berjumpa
Komunitas Arab dari Oman, Hidramaut, Basrah, dan Bahrein untuk menyebarkan
Islam di lingkungannya, sekitar Sumatra, Jawa, dan Malaka.
2. Munculnya nama “kampung Arab” dan tradisi Arab di lingkungan masyarakat, yang banyak mengenalkan Islam.
D. China
Para pedagang dan angkatan laut China (Ma Huan,
Laksamana Cheng Ho/Dampo awan), mengenalkan Islam di pantai dan pedalaman Jawa
dan Sumatera, dengan bukti antar lain:
1. Gedung Batu di Semarang (masjid gaya China).
2. Beberapa makam China muslim.
3. Beberapa wali yang dimungkinkan keturunan China.
Dari
beberapa bangsa yang membawa Islam ke Indonesia pada umumnya menggunakan
pendekatan cultural, sehingga terjadi dialog budaya dan pergaulan sosial yang
penuh toleransi. Proses awal penyebaran Islam di Indonesia melalui Perdagangan
dan Perkawinan. Dengan menunggu angin muson (6 bulan), pedagang mengadakan
perkawinan dengan penduduk asli. Dari perkawinan itulah terjadi interaksi
sosial yang menghantarkan Islam berkembang (masyarakat Islam). Pembentukan
masyarakat Islam dari tingkat ‘bawah’ dari rakyat lapisan bawah, kemudian
berpengaruh ke kaum birokrat.
Gerakan
dakwah pada saat itu juga melalui dua jalur yaitu:
a. Ulama keliling menyebarkan agama Islam (dengan
pendekatan Akulturasi dan Sinkretisasi/lambang-lambang budaya).
b. Pendidikan pesantren (ngasu ilmu/perigi/sumur),
melalui lembaga/sistem pendidikan Pondok Pesantren, Kyai sebagai pemimpin, dan
santri sebagai murid.
Dari
dua gerakan dakwah tersebut, perkembangan Islam secara relitas Islam sangat
diminati dan cepat berkembang di Indonesia. Meskipun demikian, Semangat
dalam memahami dan menerapkan
keberagaman Islam bervariasi menurut kemampuan masyarakat dalam mencernanya.
(Materi
4)
CORAK
KEISLAMAN DI INDONESIA
Dalam
perkembangan sejarah dakwah Islam, para mubaligh menyampaikan ajaran Islam
secara bijaksana melalui bahasa budaya sebagaimana dilakukan oleh Walisongo.
Karena kehebatan para wali Allah dalam mengemas dan pendekatan yang arif
bijaksana, ajaran Islam menjadi bagian dari tata nilai di masyarakat yang tidak
dapat dipisahkan.
Nilai-nilai Islam meliputi segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Corak keislaman dan keindonesiaan dapat disaksikan dari berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari seni, budaya, sosial-politik, sosial-ekonomi, pendidikan dan ilmu pengetahuan, bahkan dalam tatanan berbangsa dan bernegara yang masih dapat kita rasakan sampai saat ini.
a. Politik
Seiring periodisasi perkembangan Islam di Indonesia, ajaran Islam ikut mewarnai corak politik di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan munculnya kerajaan Islam di Indonesia, seperti Kerajaan Samudera Pasai, Malaka, Aceh Darussalam, Demak, Pajang, Banten, Cirebon, Mataram, Ternate, Tidore, Gowa-Tallo, dan lain-lain. Bahkan, nilai-nilai Islam mewarnai corak pemerintahan dan tata kenegaraan, berkolaborasi dengan nilai-nilai luhur bangsa.
b. Seni dan Budaya
Seni dan budaya tidak lepas dari pengaruh nilai-nilai ajaran Islam. Seni bukanlah sesuatu yang diharamkan dalam Islam. Dengan seni, kehidupan manusia lebih indah dan nyaman untuk dinikmati. Kata “budaya” berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu buddayah sebagai bentuk jamak dari kata budhi yang berarti perilaku, budi, atau akal. Maka, kata kebudayaan dapat diartikan sebagai bentuk yang berkaitan dengan budi pekerti dari hasil pemikiran. Kesenian termasuk dalam unsur kebudayaan. Banyak seni dan budaya Indonesia yang bernuansa Islam seperti, hadrah, rebana, kasidah, kaligrafi, seni lukis, seni pahat, tari zapin, pakarena burakne, sandur, tari pergaulan, barzanji, khitan, sekaten, rajaban, mauludan, nyadran, kenduri, menata konde, dan masih banyak lagi.
c. Pendidikan
Untuk menganalisis masuknya pendidikan
Islam di Indonesia, maka sangat tepat kiranya untuk menelusuri proses masuknya
Islam di Indonesia. Dalam hal ini, Indonesia memiliki letak yang strategis
dalam rangka pelayaran dan perdagangan sehingga menjadi salah satu sarana
masuknya ajaran Islam. Para saudagar, ulama, termasuk wali, berperan besar
terhadap penyebaran Islam.
Mereka pada mulanya mendirikan pesantren-pesantren di sekitar kota pelabuhan (sebagai tempat transit kapal-kapal dagang) guna menyebarkan dakwah Islam. Istilah “pesantren” sendiri berasal dari ucapan “pesantrian”, yakni tempat para santri menimba ilmu agama.
d. Perekonomian
Perekonomian sebagai salah satu pilar
tegaknya sebuah peradaban sedikit banyak mendapat corak keislaman. Nilai-nilai
ajaran Islam telah terpatri dalam sanubari setiap muslim, apa pun profesinya.
Sehingga, di dalam menjalankan segala aktivitas selalu dilandasi karena Allah
dan mencari keridaan-Nya.Sejarah mencatat banyak tokoh muslim Indonesia yang
sukses dalam bidang perekonomian. Mohammad Hatta adalah salah contoh tokoh
muslim yang ikut mewarnai perekonomian Indonesia dengan nilai-nilai keislaman, Ia
dikenal sebagai bapak koperasi, di mana badan usaha berbentuk koperasi
merupakan saka guru perekonomian Indonesia. Contoh lain adalah Haji Samanhudi,
seorang pedagang batik dari Laweyan, Surakarta. Pada 16 Oktober 1905, ia
mendirikan organisasi Sarekat Dagang Islam demi mengatasi situasi perekonomian
rakyat pribumi yang terpuruk akibat monopoli bangsa asing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan berkomentar dengan bijak.